Oleh: Denpasar PMII | November 13, 2010

SELAMAT HARI PAHLAWAN

Pahlawan Basa-Basi

Oleh D. Zawawi Imron

Akhir-akhir ini stasiun-stasiun televisi ramai menayangkan beberapa tokoh, pejabat, dan ilmuwan, yang berbicara tentang kepahlawanan. Berbagai pendapat dan bermacam tanggapan yang berbeda diucapkan mereka dengan nada meyakinkan. Saya sendiri tidak mengikuti pro dan kontra tentang kepahlawanan itu.

Menilai seseorang itu pahlawan atau bukan memerlukan penelitian yang mendalam serta pikiran yang jernih. Apalagi kalau orang yang dinilai dalam perjalanan hidupnya mengandung kontroversi. Bung Tomo saja, yang menjadi aktor utama peristiwa “Hari Pahlawan” 10 November 1945 sampai sekarang belum diakui secara resmi sebagai “pahlawan nasional”. Padahal, peristiwa yang dicetuskannya itu dirayakan secara nasional.

Karena itu, menilai seorang tokoh perlu ekstra hati-hati. Kalau seseorang yang dinilai itu punya jasa besar kepada bangsa dan negara, naiflah kalau tidak diakui sebagai pahlawan. Begitu pula, kalau ada orang yang merugikan rakyat dan negara dinobatkan sebagai pahlawan, sungguh akan menjadi lelucon yang tidak lucu. Kalau ada orang yang besar jasanya tapi besar pula kesalahannya, itulah masalah yang benar-benar dilematis. Untuk dinyatakan sebagai pahlawan atau bukan, harus ada pertimbangan yang penuh kebijaksanaan dan kearifan, disertai argumentasi yang akurat.

Menilai seorang manusia sebagai pelaku sejarah yang disebut tokoh, memang tidak mudah, karena mungkin manusia bukan sekadar fenomena, juga punya misteri. Peristiwa G30S PKI saja, sebagian sejarawan ada yang tidak lagi menghubungkannya dengan PKI. Yang lain lagi, pada zaman Orde Lama, hari kelahiran Pancasila ditetapkan tanggal 1 Juni 1945. Setelah Orde Baru diubah menjadi 18 Agustus 1945. Sejarawan satu dengan sejarawan lain tidak sama.

Menurut Prof Dr Aminuddin Kasdi dkk., Trunojoyo itu pahlawan nasional, tetapi menurut para penilai yang ditunjuk Departemen Sosial, masih bukan. Entah kalau data-datanya dilengkapi atau tim penilainya diganti.

Komite Nobel pernah sampai lima kali memasukkan Mahatma Gandhi sebagai nominator untuk mendapat Hadiah Nobel. Pejuang kemanusiaan dan kemerdekaan yang penampilannya sangat sederhana itu dikalahkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Setelah Gandhi wafat, Komite Nobel menyesali kekeliruan mereka dalam menilai Gandhi (Jawa Pos, 31/1/2008).

Pada 18 Agustus 2007 di Yogya Galeri, Jogjakarta digelar pameran seni rupa mengenang 2000 tahun Raden Saleh. Pameran yang berlangsung selama 3 minggu itu diberi tema “Ilusi-Ilusi Nasionalisme”. Pada pameran itu saya mendapatkan ruang sejarah yang lain. Bukan hanya visualisasi wajah Raden Saleh dan lukisan Penangkapan Diponegoro yang disajikan dengan jiwa yang segar dan baru. Lebih dari itu, ada reinterpretasi ala seniman yang memberi pemaknaan dan penyadaran baru terhadap sejarah. Antara lain, di balik karya visual itu ada konsep karya yang ditulis oleh pelukis R. Aas Rukasa. Pelukis kelahiran Ciamis itu menyatakan, “Apakah yang kau kenang melihat jalan panjang Anyer-Panarukan? Sekalipun jalan itu diwarnai penjajahan, duka, dan darah, bukankah ia tetap sebuah mahakarya?”

Saya tersenyum pahit merenungkan hal itu. Ada paradoks di dalam hati. Ada kekejaman yang menimbulkan ribuan orang mati ketika kerja rodi atas gagasan Daendeles, meskipun jalan yang dibuat itu kemudian sangat bermanfaat sampai sekarang.

Tapi, bangsa kita yang lewat di jalan itu pasti tidak akan mau mengakui Daendeles sebagai pahlawan. Sama juga dengan orang Timor Leste setelah merdeka. Mereka tidak akan mengakui patriot-patriot kita sebagai pahlawan. Xanana Gusmao yang dulu kita anggap penghianat itu sekarang sudah menjadi pahlawan Timor Leste. Dan, kita sekarang ikut menghormatinya.

Paparan di atas tidak dimaksudkan agar pembaca tidak percaya kepada sejarah dan cerita kepahlawanan. T ulisan ini ingin benar-benar mengajak kita merenungkan di kedalaman nurani, tidak hanya berenang di permukaan. Penilaian terhadap tokoh sejarah yang tergesa-gesa dan tidak mendalam, anugerah gelar pahlawan yang diberikan kepadanya akan menjadi “basa-basi” saja. Tidak substansial. Pahlawan sejati pasti tidak suka menerima gelar yang sekadar basa-basi. (*)

SUMBER:

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=324383

JAWA POS, Minggu, 03 Feb 2008

Iklan

Responses

  1. sahabat/i pmii denpasar
    dmana alamat kantor cabangxa
    kebetulan sya 1 tahun 2kli pulang kebali dari jawa
    pengin silaturrahmi sama sahabt/i pmii denpasar

  2. Salam dan renungan,

    “Sejarah awal dialog Sunnah-Syiah sehingga 2013 M/1434 H tumpuan khusus di Malaysia” web: almawaddah.info

    https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWaEYtYzFkRlpiMDg/view?usp=drivesdk

     


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: